jeudi 26 janvier 2012

Keluarga segala-galanya

Perbincangan di sore hari bersama dua teman baruku berkewarganegaraan china, di teras rumah sahabat calon suamiku, menambah wawasanku tentang dunia di luar Indonesia. Aku sama sekali tidak tau kalo di bagian utara china penduduknya beragama islam, pemahaman geografi dan sejarah aku memang gak bagus. Katanya, di sana aturannya sangat ketat. Salah satu dari temanku itu, pernah menjalin hubungan dengan seorang pria warga negara china yang beragama muslim. Baginya hubungan itu terasa berat karena kedua orangtua pacarnya menentang hubungan mereka. Akhirnya, mereka pun memutuskan tali kasihnya. Karena tidak adanya kesamaan keyakinan, dan tentu saja tidak ada yang mau mengalah.


Sebetulnya, sama saja. Di Indonesia atau di mana pun, keluarga akan (sedikit) menentang hubungan anaknya dengan orang lain yang tidak seagama - Kenapa aku letakkan kata "sedikit" dalam tanda kurung? Ya, karena ada pula keluarga yang tidak menentang akan hubungan beda agama - Pertentangan itu pun terjadi pada diriku. Tetapi, alhamdulillah, calon suamiku mengikuti ajaran yang aku anut, dan semoga dia diberi hidayah yang lebih dari Allah SWT. Aku telah bersikukuh, apa pun yang terjadi, aku tidak akan mengubah keyakinanku hanya karena cinta. Cinta dan kasihku kepada Allah SWT lebih dari segalanya. Lakum dinukum waliadin. Dan kasih sayangku kepada kedua orangtuaku pun tak akan pernah pupus. Aku tidak mau kehilangan keluargaku dan kehilangan kasih Allah SWT, itu prinsipku.


Ketika aku menceritakan awal mula aku bertemu hingga akhirnya akan naik ke pelaminan, salah satu dari mereka, Jian, meneteskan airmatanya. Kutanya, "kenapa kamu menangis?" Sambil mengusap airmatanya, dia bilang, "tidak apa-apa, aku hanya trenyuh dan senang dengan ceriteramu. Kamu benar, keluarga itu segala-galanya."


Ya, karena kepada siapa lagi kita bersandar selain Allah SWT, teman? pastinyalah kepada keluarga. 



Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire